Mutu dan Riset Jadi Prioritas, FUAD UIN Datokarama Palu Konsolidasi Dosen Lewat Rakor

Palu ( FUAD UINDK) – Mengawal mutu akademik dan memperkuat kinerja tridharma perguruan tinggi, Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) UIN Datokarama Palu menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) dosen pada Rabu (4/3/2026) di ruang rapat lantai 3 FUAD.

Rapat tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, mulai dari Dekan, para Wakil Dekan, Kepala Bagian Tata Usaha, Ketua Jurusan (Kajur), Sekretaris Jurusan (Sekjur), hingga Koordinator Program Studi (Koor Prodi), serta dosen di lingkungan FUAD. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap awal semester sebagai forum evaluasi dan konsolidasi akademik.

Sejumlah agenda strategis menjadi fokus pembahasan, di antaranya monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan perkuliahan Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026, persiapan perkuliahan Semester Genap 2025/2026, optimalisasi penggunaan Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) ISEMA, peningkatan penelitian dan publikasi dosen, hingga pemetaan jabatan serta bidang kepakaran dosen.

Dekan FUAD, Dr. H. Sidik, M.Ag, dalam arahannya menegaskan pentingnya menjaga kualitas pembelajaran sebagai wajah utama institusi. Menurutnya, evaluasi berkala menjadi instrumen penting untuk memastikan proses akademik berjalan sesuai standar mutu yang telah ditetapkan.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap proses perkuliahan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga berkualitas secara substansi. Mutu akademik adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Dalam sesi evaluasi, disampaikan bahwa secara umum kelengkapan dokumen pembelajaran, khususnya Rencana Pembelajaran Semester (RPS), telah mencapai angka yang sangat baik, yakni sekitar 98 persen. Meski demikian, hasil monitoring dan evaluasi fakultas masih menemukan beberapa ketidaksesuaian antara RPS dengan jurnal perkuliahan yang diinput pada sistem akademik. Hal ini menjadi perhatian bersama agar dosen lebih konsisten dalam menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan perencanaan yang telah disusun.

Menanggapi hal tersebut, fakultas menekankan pentingnya finalisasi dan pengunggahan RPS sebelum perkuliahan Semester Genap dimulai, penyesuaian Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) program studi, serta penerapan pendekatan Outcome Based Education (OBE) dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan Learning Management System (LMS) pada sistem akademik juga didorong untuk mendukung pembelajaran yang lebih terdokumentasi dan transparan.

Selain itu, penggunaan aplikasi RPS berbasis OBE turut dibahas sebagai upaya mempermudah dosen dalam menyusun dokumen RPS yang lebih sistematis dan sesuai standar. Mekanisme pengunggahan RPS dan LMS pada sistem ISEMA juga dijelaskan oleh Jafar Sadik, guna memastikan pengelolaan dokumen pembelajaran berjalan lebih tertib dan terintegrasi.

Pada aspek penguatan tridharma, Dekan FUAD juga mendorong peningkatan produktivitas riset dan publikasi ilmiah dosen. Menurutnya, penelitian dan publikasi bukan sekadar kewajiban formal, melainkan indikator kemajuan serta reputasi akademik fakultas.

“Penelitian dan publikasi bukan sekadar kewajiban tridharma, tetapi menjadi indikator kemajuan dan reputasi akademik kita. Kolaborasi dan konsistensi harus terus kita bangun,” tambahnya.

Agenda strategis lainnya adalah pemetaan jabatan dan bidang kepakaran dosen. Langkah ini dinilai penting untuk menyelaraskan pengampuan mata kuliah dengan kompetensi akademik dosen, sekaligus memperkuat roadmap penelitian program studi, mendukung kebutuhan akreditasi, serta pengembangan karier dosen secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, Rapat Koordinasi Dosen FUAD berlangsung dengan baik dan produktif, meskipun tidak seluruh dosen dapat hadir. Forum ini memberikan arah yang jelas bagi peningkatan tata kelola akademik fakultas, khususnya dalam penguatan sistem pembelajaran berbasis OBE, peningkatan kualitas dokumen akademik, optimalisasi sistem digital, serta penguatan kesesuaian antara kepakaran dosen dan mata kuliah yang diampu. Melalui konsolidasi ini, FUAD menegaskan komitmennya untuk terus menjaga mutu pembelajaran dan meningkatkan kontribusi ilmiah, sejalan dengan visi dan misi fakultas dalam membangun tradisi akademik yang unggul dan berdaya saing.

(HUMAS FUAD)

Menakar Kesholehan dalam Islam, Dekan FUAD UIN Datokarama Palu Sampaikan Tausiyah Ramadan

Palu (FUAD UINDK) – Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) Universitas Islam Negeri Datokarama Palu, Dr. H. Sidik, M.Ag., menyampaikan tausiyah Ramadan pada malam ke-14 Ramadan di Masjid Raya Baitul Khairaat, Selasa (3/3/2026).

Dalam tausiyah bertajuk “Menakar Makna Kesholehan dalam Islam”, ia menegaskan bahwa kesholehan tidak hanya diukur dari kesungguhan menjalankan ritual ibadah, tetapi juga dari keseimbangan antara hubungan kepada Allah SWT (hablumminallah) dan hubungan kepada sesama manusia (hablumminannas).

Menurutnya, kesholehan dapat diwujudkan melalui empat aspek utama dalam kehidupan. Pertama, beribadah dengan khusyuk dan ikhlas sebagai bentuk penghambaan yang tulus kepada Allah SWT. Kedua, berbuat baik kepada sesama sebagai wujud kesalehan sosial. Ketiga, menjaga lisan agar senantiasa berkata baik dan tidak menyakiti. Keempat, menjaga hati dari sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, sombong, dan riya yang dapat mengurangi nilai ibadah serta merusak kemuliaan akhlak.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sidik juga mengisahkan teladan keikhlasan beribadah melalui pertemuan dua tokoh sufi besar, yakni Hasan al-Basri dan Rabi’ah al-Adawiyah di Basra. Kisah tersebut menonjolkan konsep mahabbah atau cinta ilahi sebagai landasan utama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Melalui tausiyah ini, jamaah diajak menjadikan Ramadan sebagai momentum muhasabah diri untuk memperkuat kualitas spiritual sekaligus meningkatkan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

(HUMAS FUAD)

Hangat dan Penuh Kekeluargaan, FUAD UIN Datokarama Palu Gelar Buka Puasa Bersama

Palu (FUAD UINDK) – Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) UIN Datokarama Palu menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama yang diikuti para dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan fakultas, Rabu (4/3/2026). Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Hadir dalam kegiatan itu Dekan FUAD, Dr. H. Sidik, M.Ag., Wakil Rektor II Prof. Hamlan, M.Ag., serta Wakil Rektor III Dr. H. Faisal Attamimi, M.Fil.I. Turut hadir para Wakil Dekan dan Kepala Bagian Tata Usaha bersama seluruh dosen dan tenaga kependidikan FUAD.

Di sela kegiatan, Dekan FUAD menyampaikan bahwa buka puasa bersama menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat soliditas internal fakultas. Menurutnya, kebersamaan yang terbangun di bulan Ramadan diharapkan semakin memperkokoh semangat kolaborasi yang selama ini telah terjalin di lingkungan FUAD.

Ia juga menegaskan bahwa sinergi antara pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan merupakan fondasi utama dalam mendukung tercapainya visi dan misi fakultas.

“Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian dalam institusi,” ujarnya.

(HUMAS FUAD)

Mahasiswa MBKM FUAD Dikirim ke Dispusip Palu, Siap Praktekkan Ilmu di Dunia Kerja

Palu (FUAD-UIN DK) Pengantaran Mahasiswa MBKM Fakultas Ushuluddin dan Adab Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu berlangsung dengan penuh semangat dan harapan untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan lembaga pemerintahan.

Rombongan Fakultas Ushuluddin dan Adab dipimpin langsung oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Dr. Tamrin, M.Ag, didampingi Ketua Jurusan Sejarah dan Ilmu Perpustakaan Dr. Hj. Surni Kadir, M.Pd., Koordinator Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Fachriza Ariyadi, M.Si., serta Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Ahmad Aryadi, S.I.P., M.A.

Kehadiran rombongan diterima dengan hangat oleh Kepala Dinas Perpustakaan, Ibu Asharrini Mastura, S.E., M.Si., beserta jajaran. Momentum ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah ke dalam praktik nyata di dunia kerja, khususnya di bidang kearsipan dan perpustakaan.

Semoga kegiatan MBKM ini menjadi wadah pembelajaran yang bermakna, memperkaya pengalaman, serta meningkatkan kompetensi profesional mahasiswa dalam pengelolaan informasi dan kearsipan.

FUAD dan UPA Perpustakaan UNTAD Jalin Kerja Sama, Mahasiswa MBKM Dikirim Magang

Palu (FUAD-UIN DK) Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Fakultas Ushuluddin dan Adab dengan UPA Perpustakaan Universitas Tadulako dirangkaikan dengan pengantaran Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab.

MoU ini ditandatangani langsung oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab, Dr. H. Sidik, M.Ag, bersama Kepala UPA Perpustakaan, Hj. Nurhayati, S.Sos., M.Si. Rombongan Fakultas Ushuluddin dan Adab dipimpin oleh Dekan Dr. H. Sidik, M.Ag, didampingi Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Dr. Tamrin, M.Ag, Ketua Jurusan Sejarah dan Ilmu Perpustakaan Dr. Hj. Surni Kadir, M.Pd., Koordinator Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Fachriza Ariyadi, M.Si., serta Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Ahmad Aryadi, S.I.P., M.A.

Dekan FUAD berharap kerja sama ini menjadi gerbang kolaborasi yang semakin erat antara kedua institusi di masa mendatang, khususnya dalam penguatan tridharma perguruan tinggi dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Sementara itu, Hj. Nurhayati, S.Sos., M.Si. menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan kepercayaan yang diberikan. Beliau juga mengungkapkan rasa syukur karena untuk pertama kalinya UPA Perpustakaan menerima mahasiswa magang yang secara khusus berasal dari Program Studi Ilmu Perpustakaan.

Semoga sinergi ini membawa manfaat besar bagi pengembangan kelembagaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang perpustakaan dan informasi.

By HUMAS FUAD

Integrasikan Teori dan Praktik, Mahasiswa FUAD UIN Datokarama Palu Ikuti MBKM di Dua Lembaga Perpustakaan

Palu (FUAD UINDK)- Sebanyak delapan mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) Universitas Islam Negeri Datokarama Palu mengikuti kegiatan pembekalan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dilaksanakan pada Selasa (10/2) di Ruang Borang Lantai 3 FUAD.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan FUAD, Dr. H. Sidik, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa program MBKM menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik sekaligus memperkaya pengalaman praktik di lapangan.

“Melalui program MBKM ini, mahasiswa dapat belajar langsung di tengah masyarakat, lembaga, maupun instansi mitra. Ini menjadi bentuk penguatan pengalaman nyata yang relevan dengan bidang keilmuan sekaligus nilai keislaman,” ujarnya.

Program magang pada instansi mitra dijadwalkan berlangsung mulai 3 Maret hingga 1 Juli 2026, dengan durasi kurang lebih empat bulan. Kegiatan tersebut setara dengan 20 SKS atau satu semester perkuliahan dan diperuntukkan bagi mahasiswa semester enam.

Adapun dua instansi rekanan dalam pelaksanaan MBKM tahun ini yakni Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu yang diikuti oleh empat mahasiswa serta UPA Perpustakaan Universitas Tadulako yang diikuti oleh empat mahasiswa.

Melalui program ini, mahasiswa FUAD diharapkan mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik nyata di dunia kerja, sekaligus memperkuat kapasitas profesional serta membangun karakter akademik yang unggul dan humanis.

Pembukaan pembekalan turut dihadiri para Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Jurusan Sejarah dan Ilmu Perpustakaan, serta Koordinator Program Studi IPII.

Ketua Jurusan Sejarah dan Ilmu Perpustakaan, Dr. Hj. Surni Kadir, M.Pd.I., menyampaikan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam program MBKM merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kompetensi lulusan, khususnya dalam bidang pengelolaan informasi dan perpustakaan yang semakin dinamis di era digital.

Salah satu peserta, Aulia Ramadani, mengaku program MBKM sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Menurutnya, kegiatan magang mampu melatih keterampilan dalam mengelola perpustakaan, memperluas relasi, serta menambah pengalaman yang dapat diimplementasikan di dunia kerja.

“Selain mendapatkan pengalaman belajar secara langsung, kami juga bisa membangun relasi dengan pustakawan profesional dan memperoleh ilmu yang belum pernah kami dapatkan di kelas. Ilmu tersebut nantinya dapat kami terapkan di kampus maupun saat bekerja,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Syariv Avrizal Timbang. Ia menilai program MBKM menjadi sarana pembelajaran yang penting dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

“Program ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi, karena bisa menjadi bekal belajar untuk menghadapi dunia pekerjaan nantinya,” ujarnya.

(Humas FUAD)

FUAD UIN Datokarama Palu Lantik Pengurus SEMA, DEMA, dan HMPS Periode 2026

Palu (FUAD UINDK) — Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) Universitas Islam Negeri Datokarama Palu, Dr. H. Sidik, M.Ag., secara resmi melantik Ketua dan Pengurus Senat Mahasiswa (SEMA), Dewan Mahasiswa (DEMA), serta Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) se-FUAD periode 2026. Prosesi pelantikan berlangsung pada 25 Februari 2026 di Ruang Borang FUAD dalam suasana khidmat dan penuh semangat kebersamaan.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh para Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Jurusan, serta Koordinator Program Studi di lingkungan FUAD. Pelantikan ini menjadi momentum awal kepengurusan organisasi kemahasiswaan tahun 2026 sekaligus mempertegas komitmen sinergi antara pimpinan fakultas dan mahasiswa.

Dalam prosesi tersebut, Nur Aulia Rahmadani resmi dikukuhkan sebagai Ketua SEMA FUAD, disusul Moh Ramdan Maulana sebagai Ketua DEMA FUAD. Sementara itu, para Ketua HMPS yang dilantik yakni Muh Fadli (Akidah dan Filsafat Islam/AFI), Moh Iqbal (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir/IAT), M. Bintang Marsandy (Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam/IPII), Sahir Cipongono (Pemikiran Politik Islam/PPI), dan Muh Ezwansyah Lapato (Sejarah Peradaban Islam/SPI).

Dalam sambutannya, Dekan FUAD menyampaikan apresiasi atas kesiapan para mahasiswa dalam mengemban amanah organisasi. Ia berharap kepengurusan periode 2026 mampu menghadirkan program-program yang inovatif, partisipatif, serta memberikan dampak nyata bagi mahasiswa dan institusi.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya merancang program kerja yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan internal kampus, tetapi juga menyentuh langsung masyarakat. Menurutnya, organisasi kemahasiswaan perlu menghidupkan kembali tradisi-tradisi akademik dan dakwah yang pernah menjadi ciri khas mahasiswa Ushuluddin.

“Mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat. Kita pernah aktif melaksanakan ceramah ke daerah-daerah, menjadi khatib Jumat, dan berdakwah langsung di masjid-masjid. Itu membangun citra positif dan menunjukkan kualitas mahasiswa Ushuluddin,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar program safari Ramadan kembali digiatkan dengan pendampingan dosen untuk menjaga kualitas materi dakwah sekaligus memperkuat kompetensi keilmuan dan praktik mahasiswa.

Melalui program-program berbasis pengabdian masyarakat, Dekan berharap mahasiswa FUAD mampu menjadi duta fakultas yang memperkuat kepercayaan publik serta menarik minat generasi muda untuk melanjutkan studi di FUAD UIN Datokarama Palu.

(HUMAS FUAD)

Gubernur Dorong UIN Datokarama Jadi Pelopor Percepatan Target Pembangunan Daerah Melalui Visi “Sulteng Nambaso”

Gubernur Sulteng, Dr. H. Anwar Hafid besama Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. H. Lukman Tahir, M.Ag (paling kiri), Dekan FUAD Dr. H. Sidik,M.Ag (dasi kuning) bersama para pimpinan UIN Datokarama Palu saat Asesmen Lapangan, 08/12/2025

Palu (FUAD UIN DK) — Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, mendorong Universitas Islam Negeri Datokarama untuk mengambil peran strategis sebagai pelopor percepatan pembangunan daerah melalui visi “Sulteng Nambaso”. Hal itu ia tegaskan saat membuka seremonial Asesmen Lapangan Akreditasi Perguruan Tinggi UIN Datokarama pada Senin, 8 Desember 2025, di Lere, Kecamatan Palu.

Dalam sambutannya, Gubernur menjelaskan bahwa istilah “Nambaso” berasal dari bahasa Kaili yang berarti besar, dan kini menjadi slogan pemerintahan provinsi sebagai simbol tekad menjadikan Sulawesi Tengah sebagai daerah yang maju di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Ia menambahkan, “Nambaso” juga merupakan akronim dari Anak Miskin Bisa Sekolah, sebuah komitmen pemerataan akses pendidikan untuk seluruh masyarakat Sulteng.

“Saat ini rata-rata lama sekolah di Sulteng baru sembilan tahun. Target kita, pada 2029 angka tersebut meningkat menjadi 12 tahun,” ujar Gubernur.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi melalui program Berani Cerdas tengah memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat, khususnya kelompok kurang mampu. Dalam kerangka itu, UIN Datokarama dipandang memiliki posisi sentral untuk memperkuat pembangunan manusia melalui riset, pendidikan karakter, dan pengabdian masyarakat.

Rektor UIN Datokarama, Prof. Lukman S. Thahir, menegaskan kesiapan kampus untuk bersinergi dengan pemerintah daerah. Ia menyampaikan bahwa semangat “Sulteng Nambaso” akan diintegrasikan dalam seluruh aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi, termasuk penguatan budaya akademik yang inklusif.

“Kami menjadikan kampus ini sebagai rumah bersama yang toleran dan tempat lahirnya ide-ide inovatif untuk kemajuan daerah. Semangat ‘Nambaso’ akan menjadi roh dalam setiap kegiatan akademik maupun non-akademik,” ujar Rektor.

Melalui kolaborasi tersebut, UIN Datokarama menegaskan komitmennya untuk berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia serta mendukung agenda pembangunan Sulteng secara berkelanjutan.

(Humas FUAD)

Seminar Nasional IAT dan SPI FUAD UIN Datokarama Bahas Dinamika Studi Tafsir di Indonesia Timur

Palu (FUAD UIN DK)— Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) UIN Datokarama Palu menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Sejarah Perkembangan Studi Tafsir di Kawasan Indonesia Timur” pada Selasa, 9 Desember 2025, bertempat di Aula Pascasarjana UIN Datokarama Palu. Kegiatan ini menjadi ruang akademik penting dalam memetakan perkembangan kajian tafsir di wilayah timur Indonesia yang selama ini masih jarang disorot.

Dekan FUAD UIN Datokarama Palu, Dr. H. Sidik, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa seminar ini merupakan langkah strategis bagi fakultas untuk memperkuat tradisi keilmuan berbasis riset. Ia menilai bahwa pembahasan mengenai tafsir Nusantara—khususnya wilayah timur—perlu terus didorong agar tidak tertinggal dari wacana akademik nasional.

“FUAD memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk membuka ruang penelitian yang lebih luas, terutama pada wilayah-wilayah yang selama ini jarang dijamah oleh para peneliti,” ujarnya sembari membuka acara secara resmi.

Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Islah Gusmian, M.Ag., Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, yang dikenal luas sebagai pakar kajian tafsir Nusantara. Prof. Islah menegaskan bahwa kajian tafsir di Indonesia selama ini cenderung berpusat pada wilayah barat dan tengah, sementara kekayaan intelektual di kawasan timur masih kerap terpinggirkan dari percakapan akademik arus utama. Menurutnya, hal ini menyebabkan narasi sejarah tafsir Nusantara menjadi timpang dan kurang mencerminkan keragaman sebenarnya.

Ia menyampaikan bahwa pengembangan studi tafsir Indonesia Timur harus dilakukan melalui pendekatan historis dan sosio-kultural. Pendekatan ini bertujuan membaca bagaimana konteks lokal—mulai dari struktur masyarakat, tradisi keagamaan, hingga dinamika sosial politik—membentuk corak penafsiran yang lahir di wilayah tersebut.

Prof. Islah juga menyoroti keberadaan manuskrip, karya tafsir lokal, serta tradisi pengajaran tafsir di pesantren dan lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah timur. Menurutnya, banyak sumber primer yang potensial tetapi belum terpetakan secara sistematis. “Indonesia Timur memiliki kekayaan naskah dan tradisi tafsir yang sangat khas. Tantangan terbesar kita adalah melakukan penelitian lapangan, dokumentasi, dan pembacaan ulang terhadap warisan intelektual tersebut,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menilai bahwa studi tafsir di kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah interaksi Islam dengan masyarakat pesisir dan kepulauan. Jalur perdagangan, mobilitas ulama, hingga kontak budaya menjadi faktor yang turut membentuk ragam pemaknaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam sesi diskusi, Prof. Islah menekankan perlunya kolaborasi antara perguruan tinggi di Indonesia Timur dalam mengembangkan peta riset tafsir Nusantara yang lebih komprehensif. Ia berharap generasi muda peneliti ikut mengambil peran dalam menggali dan menghidupkan kembali khazanah keilmuan tersebut.

Acara berlangsung dengan khidmat dan interaktif. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait metodologi penelitian tafsir Nusantara dan urgensi dokumentasi manuskrip keagamaan yang tersebar di berbagai wilayah timur Indonesia, Dr. Darlis, Lc., M.S.I., bertindak sebagai moderator.

Seminar ini turut dihadiri Ketua Senat UIN Datokarama Palu, para dekan dari FEBI dan FSaintek, para wakil dekan, serta sivitas akademika FUAD lainnya. Kehadiran para pimpinan universitas menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan riset tafsir dan sejarah peradaban Islam di lingkungan kampus.

Melalui kegiatan ini, FUAD UIN Datokarama Palu berharap semakin banyak kajian akademik yang lahir dari mahasiswa dan dosennya, khususnya mengenai perkembangan studi Islam di kawasan timur Indonesia. Seminar Nasional ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat serta buku karya  Dr. Darlis, Lc., M.S.I., kepada Prof. Islah sebagai cenderamata.

(Humas FUAD)

Guru Besar UIN Datokarama Tekankan Moderasi Beragama sebagai Karakter Tenaga Kependidikan

PALU (FUAD UINDK) — Guru Besar Filsafat Islam UIN Datokarama Palu, Prof. Zainal Abidin, menegaskan bahwa moderasi beragama harus menjadi karakter dasar seluruh tenaga kependidikan di lingkungan kampus. Penegasan itu ia sampaikan saat tampil sebagai pemateri pada kegiatan Pembinaan Tenaga Kependidikan Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN Datokarama Palu yang digelar di Swiss-Belhotel Palu, Sabtu (22/11/2025).

Dalam paparannya, Prof. Zainal meluruskan kesalahpahaman yang sering muncul di masyarakat terkait istilah moderasi beragama. Menurutnya, masih banyak yang keliru dengan menyamakan moderasi beragama dengan moderasi agama.

“Moderasi beragama berfokus pada cara individu dan kelompok menjalankan agama dengan seimbang, proporsional, dan tidak berlebih-lebihan. Sementara moderasi agama secara keliru menggambarkan seolah-olah ajaran agama itu sendiri yang harus diubah atau disesuaikan. Padahal, moderasi beragama menyangkut sikap penganutnya, bukan isi ajaran agamanya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh agama, termasuk Islam, pada dasarnya sudah mengajarkan prinsip moderasi, keadilan, dan keseimbangan. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah perilaku umat ketika menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan social, mencar persamaan yang bias menjadi perekat, bukan malah mencari perbedaan untuk memecah belah.

Menurut Prof. Zainal, moderasi beragama berada pada wilayah praktik keberagamaan, bukan pada wilayah doktrin. Konsep ini bertujuan menciptakan kerukunan dan harmoni sosial tanpa mengorbankan keyakinan maupun kemurnian ajaran agama.

Landasan moderasi beragama juga kuat, baik secara teologis maupun historis. Secara teologis, Al-Qur’an melalui QS. Al-Baqarah ayat 143 mengajarkan konsep ummatan wasathan—umat yang moderat. Secara historis, Piagam Madinah menjadi bukti bahwa masyarakat multikultur dapat hidup berdampingan secara toleran dan berkeadilan.

Di lingkungan kampus, kata Zainal, penguatan moderasi beragama harus dimulai dari tenaga kependidikan sebagai garda terdepan pelayanan dan penghubung antara lembaga dan publik.

“Tenaga kependidikan harus mampu memberi arahan agar umat tidak terjebak pada fanatisme, polarisasi pemikiran, maupun sikap eksklusif yang memicu perpecahan,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya sikap teladan, etika komunikasi, dan kemampuan merespons dinamika sosial secara bijak.

Sebagai rujukan keteladanan, Zainal mengangkat empat imam mazhab besar—Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hanbal—yang meski berbeda pandangan, tetap saling menghormati dan tidak mengklaim kebenaran tunggal.

“Moderasi beragama berarti menghidupkan kembali karakter umat Islam sebagai ummatan wasathan. Inilah nilai yang harus kita bawa dalam kehidupan beragama, bernegara, dan terutama dalam lingkungan akademik,” tutupnya.

(HUMAS FUAD)